home

Daftar isi

Welcome

Selamat datang Dalam Blog baru Saya yang ke-2 kalinya.
Karena Blog saya yang satu Lupa Paswordnya. Maka Saya Pakai Blog baru
Blog ini pertama saya buat untuk Tugas kuliah
Selain Tugas Kuliah Pasti Akan Ada Sesuatu yang akan saya postingkan.
Happy and enjoy with my blog.

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Arti dari angka pada Nomer Induk Pegawai (NIP)

Arti dari angka pada Nomer Induk Pegawai (NIP)Hai para sobat. Ini saya luncurkan lagi sekilas pandang tentang NIP. apakah para pembaca sudah tahu apa itu NIP? NIP adalah singkatan dari Nomer Induk/Identitas Pegawai. Nah kalau anda adalah seorang pegawai negeri sipil atau saudara anda ada yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil /PNS paling tidak anda mengetahui identitas dari NIP yang ada. Sebagai contoh ada teman saya yang memberikan reverensi NIP karena kini dia telah menjadi CPNS. yaitu Abdul wahab admin dari Guru Pantura. Baru tahun 2012 pada bulan 11 kemarin dia telah sah menjadi pegawai di Kab. Bogor.
Ok kita bahas tentang NIP saudara Wahab ini.
NIP nya. 19900531 201211 1 001
Baik kita bahas satu persatu dari angka warna merah. 19900531 ini adalah tanggal lahir yang punya NIP. 
Biasanya urut-urutanyan tahun kelahiran/bulan kelahiran/tanggal kelahiran
Untuk no dengan warna kuning 201211 ini adalah tahun dia diangkat. seperti tahun di samping, dia diangkat pada bulan November tahun 2012. Formatnya adalah tahun pengangkatan pegawai,bulan pengangkatan.
Untuk angka warna hijau itu adalah jenis kelamin. Jika laki-laki biasanya dituliskan angka 1, dan perempuan biasanya angka 2
Untuk angka Biru yang dituliskan angka 001 ini adalah nama yang sama saat pengangkatan di daerah tersebut. Kita melihat dari jumlah nama yang sama di tahun dan bulan pengangkatan. Jika namanya  ada 1 biasanya 001, jika ada nama yang hampir serupa biasanya di urutkan sesuai dengan Alfabet.
Demikian sekilas pandang NIP teman saya. Terima kasih :D
Lanjut Den. >>

Monday, November 26, 2012

Aljabar Matematika

http://diannov29.blogspot.com/2012/06/rpp-bentuk-aljabar.html

Hai pembaca-pembaca sekalian. hehehe baru nulis lagi nich... Lama modem ane gap punya pulsa, dan Alhamdulilah udah berwiyata tetapi ber PNS heheheh. bingung tha. saya juga bingung. Nah sekarang saya akan membahas tentang Aljabar.
Aljabar adalah salah satu bab di SMP pada kelas awal. Semua siswa SMP Pasti mengeluh tentang sulitnya aljabar. Padahal algabar itu sulit. tergantung kita yang merasakan. Nah ini adalah contoh soal yang saya sadur saat saya mengajarkan Algabar pada siswa SMP anak didik les saya.
Jika ada soal :
            2a = a + a ( "a" nya sama aja "ayam+ayam" jadi "2 ayam)
            3c = c + c+ c ("cecak+ cecak+ cecak"  jadi "3cecak")
            2a+3c= (kalo ini gak bbisa di tambah, soalnya beda ayam+cecak beda spesies. hehehe)
            2a+3c-a+c= a +4a. (awalnya disamakan dulu spesiesnya "ayam dengan ayam Cecak dengan cecak) 2a-a+3c+c=a+4c (2 ayam di kurang satu ayam+ 3 cecak tambah 1 cecak. jadi satu ayam tambah 4 cecak. jika satu hanya tulis hurufnya saja)
Pengurangan (-) ini sangat mudah kok. kalo tadi di tambah sekarang di kurang, contoh :
           2a-a= a (2 ayam-1ayam= satu ayam/ hanya "a"
           2b-5b= -3b (2 bebek kurang 5 bebek jadi hutang 3 bebek)
           3a-b-5a+4b= (jadikan satu dulu) 3a-5a-b+4b(jika dibaca 3 ayam hutang 5 ayam. berarti msh hutang 2 ayam/-2, terus hutang satu bebek dibayar 4 bebek jadi 3bebe)=-2a+3b


Lanjut Den. >>

Wednesday, February 22, 2012

Contextual Teaching Learning (CTL)



 Selamat datang para pembaca sekalian. kini ane berbagi tentang Pembelajaran CTL. Ya ini yang saya dapatkan dalam kuliah. Semoga bermanfaat bagi semuanya.
Metodhe CTL adalah Pembelajaran kontekstual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching Learning (CTL). Kata contextual berasal dari kata contex yang berarti “hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan ”yang berhubungan dengan suasana (konteks). Sehingga Contextual Teaching Learning (CTL) dapat diartikan sebagi suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Pengajaran  kontekstual sendiri pertama kali dikembangkan di  Amerika Serikat yang diawali dengan dibentuknya Washington State Consortum for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Antara tahun 1997 sampai tahun 2001 sudah diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektifitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, dan 18 sekolah dengan mengikutsertakan 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sudah diberikan pembekalan sebelumnya.
Penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi sehingga hasilnya direkomendasikan  untuk  segera disebarluaskan pelaksanaannya. Untuk tingkat sekolah, pelaksanaan dari  program ini memperlihatkan suatu hasil yang signifikan, yakni meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan  partisipasi aktif siswa secara keseluruhan.
Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen  utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap  individu  dapat  membuat  struktur  kognitif  atau mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru.
Menurut Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu:
1.      Mengandung pengalaman nyata (Experience);
2.      Adanya interaksi sosial (Social interaction);
3.      Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4.      Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
2. Bertanya (Questioning)
Bertanya  merupakan  strategi  utama  dalam  pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis  inquiry.  Dalam  sebuah  pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1)            Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2)            Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3)            Membangkitkan respon kepada siswa;
4)            Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5)            Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6)            Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7)            Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3. Menemukan (Inquiry)
Menemukan  merupakan  bagian  inti  dari  pembelajaran  berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
1)            Merumuskan masalah ;
2)            Mengajukan hipotesis;
3)            Mengumpulkan data;
4)            Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5)            Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan  siswa  memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
4. Masyarakat belajar (Learning Community)
Konsep  Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas, 2003).
5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam arti  guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa digolongkan menjadi :
1)            Kehidupan yang nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
2)            Simbolik (symbolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
3)            Representasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya televisi dan radio.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.  Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang realisasinya dapat berupa :
1)            Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh  pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;
2)            Catatan atau jurnal di buku siswa;
3)            Kesan dan saran mengenai pembelajaran yang telah dilakukan.
7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang  diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis.
Kelemahan dan kelebihan
A.    Kelemahan
1.      Harus Dilakukan secara runtut
2.      Waktu Yang digunakan Relatif lebih panjang
3.      Guru Dituntun harus menguasai setiap element
4.      Pada awal pengembangan pembelajaran ini, guru harus bisa mengarahkan siswa untuk aktif dalam setiap pembelajaran.

B.     Kelebihan
1.      Pemilihan informasi kebutuhan individu siswa
2.      Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin)
3.      Selalu mengaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimilikai siswa
4.      Menerapkan penelitian autentik melalui penerapan praktis dan pemecahan masalah

Lanjut Den. >>

Sunday, February 5, 2012

Pembelajaran yang Menyenangkan Dengan Pakem


Terima kasih telah melihat dan membaca setia Blog saya  yang tak mewah tapi banyak harta tersimpan. Dan mungkin menjadikan Sdr/Sdri Sekalian bermanfaat dan dapat di tularkan. Dan jika ingin mencari sumber referensi kami bisa dipakai. Terima kasih sebelumnya. Nah kali ini saya akan membahas tentang Pembelajaran yang tidak Menyenagkan. 

Dalam buku “Genius Learning Strategy” Andi Wira Gunawan menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada mata pelajaran yang membosankan, yang ada adalah guru yang membosankan, suasana belajar yang membosankan. Hal ini terjadi karena proses belajar berlangsung secara monoton dan merupakan proses perulangan dari itu ke itu juga tiada variasi. Proses belajar hanya merupakan proses penyampaian informasi satu arah, siswa terkesan pasif menerima materi pelajaran.
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa untuk mengalami sendiri, untuk berlatih, untuk berkegiatan sehingga baik dengan daya pikir, emosional dan keterampilannya mereka belajar dan berlatih. Pendidik adalah fasilitator, perancang suasana kelas demokratis, kedudukan pendidik adalah pembimbing dan pemberi arah, peserta didik merupakan obyek sekaligus subyek dan mereka bersama-sama saling mengisi kegiatan, belajar aktif dan kreatif. Disini dibutuhkan partisipasi aktif di kelas, bekerja keras dan mampu menghargainya, suasana demokratis, saling menghargai dengan kedudukan yang sama antar teman, serta kemandirian akademis.
Dr. Vernon A. Magnesen (1983) menegaskan bahwa persentase keberhasilan kita menyerap informasi dan menyimpannya dalam memori ketika belajar adalah :
  • 10 %  dari apa yang kita baca
  • 20 % dari apa yang kita dengar
  • 30 %  dari apa yang kita lihat
  • 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
  • 70 %  dari apa yang kita katakan
  • 90 % dari apa yang kita katakan dan kerjakan.
PAKEM
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
  • Aktif dimaksudkan bahwa  dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar merupakan proses aktif dari si pembelajar (siswa) dalam membangun pengetahuannya.
  • Kreatif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mampu menciptakan kegiatan belajar yang beragam serta mampu membuat alat bantu/media belajar sederhana yang dapat memudahkan pemahaman siswa. Kegiatan pembelajaran tidak musti dilakukan di dalam kelas secara klasikal. Disamping itu siswa aktif pula bertanya, berdiskusi, mengemukan pendapat, merancang , membuat sesuatu, melalukan demonstrasi, membuat laporan, membuat refleksi, mempresentasikan pengetahuannya.
  • Efektif dimaksudkan selama proses pembelajaran berlangsung, terwujudnya ketercapaian tujuan pembelajaran. Siswa menguasai kompetensi dan ketrampilan yang ditargetkan kurikulum.
  • Menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan dan nyaman. Siswa selaku subjek belajar tidak takut dimarahi jika ia salah, tidak takut ditertawakan jika ia keliru, tidak dianggap sepele, berani mencoba karena tidak takut salah.
Ciri Yang Menonjol pada PAKEM
·         Pertama, adanya sumber belajar yang beraneka ragam, dan tidak lagi mengandalkan buku sebagai satu-satunya sumber belajar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk lebih memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
·         Kedua, sumber belajar yang beraneka ragam tersebut kemudian didesain skenario pembelajarannya dengan berbagai kegiatan.
·         Ketiga, hasil kegiatan belajar mengajar kemudian dipajang di tembok kelas, papan tulis, dan bahkan ditambah dengan tali rapiah di sana-sini. Pajangan tersebut merupakan hasil diskusi atau hasil karya siswa.pajangan hasil karya siswa menjadi satu ciri fisikal yang dapat kita amati dalam proses pembelajaran.
·         Keempat, kegiatan belajar mengajar bervariasi secara aktif, yang biasanya didominasi oleh kegiatan individual dalam beberapa menit, kegiatan berpasangan, dan kegiatan kelompok kecil antara empat sampai lima orang, untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah disepakati bersama, dan salah seorang di antaranya menyampaikan (presentasi) hasil kegiatan mereka di depan kelas. Hasil kegiatan siswa itulah yang kemudian dipajang.
·         Kelima, dalam mengerjakan pelbagai tugas tersebut, para siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, mencoba mengembangkan semaksimal mungkin kreativitasnya.
·         Keenam, dalam melaksanakan kegiatannya yang beraneka ragam itu, tampaklah antusiasme dan rasa senang siswa.
·         Ketujuh, pada akhir proses pembelajaran, semua siswa melakukan kegiatan dengan apa yang disebut sebagai refleksi, yakni menyampaikan (kebanyakan secara tertulis) kesan dan harapan mereka terhadap proses pembelajaran yang baru saja diikutinya.
Dengan penerapan pembelajaran Pakem di dalam kelas, siswa lebih bisa mampu untuk memahami pelajaran yang diberikan oleh guru supaya siswa lebih berani untuk berpendapat dan diajarakan untuk tidak takut dengan pelajaran-pelajaran yang dihadapi. Pembelajaran Pakem bertujuan untuk mengajak siswa untuk aktif di dalam kelas supaya siswa diajarkan untuk mandiri. Dengan pembelajaran pakem guru juga dituntut untuk lebih kreatif dalam pembelajaran.

Lanjut Den. >>

Implementasi teori gagne dalam pembelajaran



Terima kasih sudah mengunjungi dan menunggu postingan saya. Dalam Posting kali ini saya akan mengugkapkan implementasi teori Gagne dalam pembelajaran yang menerapkan nya dalam kelas. Dengan dua Versi. Versi Indonesia dan Inggrisnya. Mungkin tak sebanyak postingan sebelumnya, tetapi semoga bermanfaat.

Dalam pembelajaran menurut Gagne peranan guru lebih banyak membimbing
peserta didik, guru dominan sekali peranannya dalam membimbing peserta didik. Di
dalam mengajar memberikan serentetan kegiatan dengan urutan sebagai berikut :
-          Membangkitkan dan memelihara perhatian
-          Merangsang siswa untuk mengingat kembali konsep, aturan dan keterampilan yang relevan sebagai prasyarat
-          Menyajikan situasi atau pelajaran baru
-          Memberikan bimbingan belajar
-          Memberikan Feedback atau balikan
-          Menilai hasil belajar.
-          Mengupayakan transfer belajar
-          Memantapkan apa yang dipelajari dengan memberikan latihan-latihan untuk menerapkan apa yang telah dipelajari
Implementation theory Robert M Gagne on learning
On learning according Gagne teacher action more much guidance  student. On Teaching give consecutively activity with order as follow.
1.      Arousing and keep attention
2.      Stimulate student to remember again concept, rule and skill is relevant to prerequisite.
3.      Present situation or new learning
4.      Give study guidance 
5.      Values result study Imam arif wirastho
6.      Strive for replacement study
7.      Convince what is studied with give exercise to apply what is already study.
Sampai Jumpa di postingan selanjutnya.
Lanjut Den. >>